ICON Retrospective: visual art exhibition

- JOGJA Gallery
Jl. Pekapalan 7, Alun-alun Utara Yogyakarta - 19 September s.d. 19 November 2006
- Pembukaan Pukul: 19.00 WIB, dibuka oleh Sri Sultan HB X
Sejak masa revolusi (sebagai tanda dimulai pemikiran seni rupa modern di Jogja) hingga saat ini, dapat dilacak sejauh mana eksistensi dan kemampuan perupa Jogja dalam perkembangan di dunia seni rupa, bahkan hingga skala internasional. Ada banyak hal yang terkait dalam perkembangan seni rupa di kota ini, mulai dari perkembangan dan sejarah politik, sosial, ekonomi hingga teknologi. Semua ini akan dirangkum dalam pameran dengan skala sedang (skala ini diukur dari keikutsertaan perupa/ nasional), khususnya akan diikuti perupa yang pernah menghiasi kota budaya ini.
Pameran ini akan mengangkat karya-karya atau perupa-perupa yang menjadi dan memiliki tanda khusus di zamannya masing-masing, ditambah dengan karya-karya baru sebagai tanda perkembangan. Berbagai syarat yang dikemukakan antara lain adalah mereka (perupa atau karya) yang kerap menghiasi sejarah dan berpengaruh pada masa tertentu (lihat lampiran Peserta Pameran), sekaligus menjadi pelaku sejarah yang banyak dicatat. Di samping itu adalah mereka yang memberi sumbangan terjadinya hubungan antara seni rupa dan dimensi di luar dirinya, seperti perkembangan politik, sosial, ekonomi dan teknologi, seperti yang kami kemukakan di atas. Sehingga secara teknis, materi karya yang akan dimasukkan (diseleksi) adalah karya lama ditambah dengan karya-karya baru milik perupa yang masuk dalam era terakhir/ terkini.
Secara khusus dalam pameran ini akan ditampilkan sebuah irisan perkembangan yang terjadi dalam rangkaian yang panjang tersebut. Tepatnya dimulai pada saat era 70 hingga ke masa kini, 2000an. Dimulainya pada tahun 1970-an dimaksudkan untuk mempertimbangkan kembali persoalan keragaman media yang muncul. Dengan dimulainya Gerakan Seni Rupa Baru yang dipicu oleh keresahan estetik beberapa mahasiswa STSRI ASRI Yogyakarta dan Jurusan Seni Rupa ITB pergulatan media mulai mendapatkan tempat dalam sejarah. Dari tahun 1970-an sampai saat ini agaknya memiliki rangkuman cerita tentang pasang surutnya persoalan medium dalam seni rupa. Tentu saja persoalan materi karya sangat bervariasi, dengan perangai, kondisi karya maupun berbagai hal yang terjadi di lapangan. Sebagian karya yang ada adalah lukisan dan patung. Namun dalam perkembangan terakhir, fotografi, seni instalasi, contemporary craft, performance art, komik, mural dan new media art juga dihadirkan dalam pameran ini sebagai bagian dari warna seni rupa di Jogja.
Tajuk ini sangat cocok untuk menandai berdirinya sebuah galeri yang berdedikasi pada seni rupa, dalam hal JOGJA Gallery. Setidaknya pihak galeri dapat memberi penerangan pada publik Jogja tentang salah satu harta warisan budaya dan sejarah yang pernah mewarnai kota ini. Dengan tajuk ICON, diharapkan Jogja Gallery menjadi pioner dalam berbagai pelacakan seluk-beluk kebudayaan Jogja, mungkin bisa dimulai dengan pameran ini.
Mikke Susanto
M. Dwi Marianto
